Website Tidak Menghasilkan Leads? Cek Titik Bocornya

Website ramai tapi WhatsApp tetap sepi? Temukan hambatan yang membuat calon pelanggan mundur dan cara memperbaiki konversinya.

ON THIS PAGE

Website Banyak Pengunjung tapi Sepi Leads? Ini yang Membuat Calon Pelanggan Mundur

Senin pagi.

Kamu buka dashboard iklan.

Klik naik. Tayangan ramai. Grafiknya hijau. Angkanya cukup cantik buat dipamerkan saat rapat.

Lalu kamu membuka WhatsApp.

Sepi.

Formulir masuk? Dua. Satunya menawarkan pinjaman. Satunya lagi salah memasukkan nomor telepon.

Kamu mulai curiga kepada iklan. Tim marketing ikut kena tatap. Website juga mau diganti karena dianggap sudah “nggak menarik”. Semua kelihatan bersalah, kecuali satu masalah yang justru sering luput diperiksa.

Pengunjungmu kebanyakan mikir.

Mereka harus menebak bisnismu menjual apa. Mencari sendiri tombol konsultasi. Membandingkan tiga paket yang bedanya samar. Mengisi formulir sepanjang daftar riwayat hidup. Setelah itu masih diminta sabar menunggu balasan.

Setiap kebingungan kecil mengikis niat.

Makin keras pengunjung harus berpikir, makin dekat mereka pada tombol kembali.

Tidak ada tagihannya. Tidak muncul di rekening. Namun bayarnya nyata: calon pelanggan pergi sebelum sempat bertanya.

Kalau website tidak menghasilkan leads, masalahnya belum tentu kekurangan trafik. Bisa jadi website-mu sudah kedatangan orang yang tepat, lalu membuat mereka berjalan melewati lorong tanpa petunjuk.

Mari kita cari di mana minat mereka mulai rontok.

Trafik, Leads, dan Closing Itu Beda Pekerjaan

Bayangkan sebuah toko di pinggir jalan.

Ada 1.000 orang lewat di depannya. Itu trafik.

Sebanyak 70 orang masuk dan bertanya. Itu leads.

Lalu 12 orang membeli. Itu closing.

Kalau orang yang lewat banyak tetapi tidak ada yang masuk, apakah solusinya langsung menyewa baliho lebih besar?

Belum tentu.

Bisa jadi pintunya tidak terlihat. Tulisan di kaca membingungkan. Dari luar, orang bahkan tidak tahu toko itu menjual kopi atau onderdil motor.

Website bekerja dengan logika yang sama. SEO, iklan, media sosial, dan referral membawa orang ke depan pintu. Halaman website bertugas membuat orang merasa, “Ini yang saya cari. Mereka paham masalah saya. Langkah berikutnya jelas.”

Di Digital Kreatif, kami melihat website sebagai bagian dari jalur penjualan, bukan pajangan daring yang selesai setelah tombol publish ditekan. Sebab desain yang enak dilihat memang penting. Tetapi pengunjung tidak datang untuk mengagumi radius sudut tombolmu.

Mereka datang membawa urusan.

Website harus membantu urusan itu bergerak.

Kebingungan Kecil yang Menghambat Konversi

Kebingungan muncul saat pengunjung harus bekerja terlalu keras untuk memahami halaman atau mengambil tindakan.

Bentuknya bisa sangat kecil:

  • Headline terdengar keren, tetapi tidak menjelaskan layanan.
  • Ada lima tombol dengan tujuan berbeda dalam satu layar.
  • Harga disembunyikan tanpa alasan.
  • Portofolio ada, tetapi tidak menjelaskan hasil.
  • Formulir meminta informasi yang belum siap diberikan pengunjung.
  • Tombol WhatsApp terbuka, tetapi pesan awalnya kosong.
  • Halaman mobile bergerak saat tombol hendak ditekan.

Satu gangguan mungkin masih dimaafkan.

Kalau semuanya muncul dalam satu halaman, pengunjung seperti diminta melewati loket kelurahan: ambil nomor, salah antrean, fotokopi kurang, pulang.

Mereka tidak akan mengirim surat perpisahan.

Mereka cukup menekan tombol kembali.

1. Headline Membuat Pengunjung Memecahkan Teka-Teki

“Transforming Tomorrow Through Limitless Innovation.”

Keren?

Lumayan.

Menjual apa?

Nah.

Kalimat semacam itu sering muncul di bagian paling mahal sebuah website: layar pertama. Ruang yang seharusnya menjawab kebutuhan pengunjung malah dipakai untuk lomba terdengar visioner.

Headline yang bekerja perlu menjawab setidaknya tiga hal:

  1. Apa yang ditawarkan?
  2. Siapa yang dibantu?
  3. Hasil apa yang bisa diharapkan?

Bukan berarti semuanya harus dipaksa masuk ke satu baris. Headline membuka pintu. Subheadline melengkapi konteks. Tombol memberi langkah berikutnya.

Contoh yang terlalu kabur:

Contoh yang lebih membumi:

Versi kedua memang tidak terdengar seperti pidato pembukaan konferensi. Justru itu bagus. Pengunjung langsung tahu isi tokonya.

Kalau kamu menggunakan jasa pembuatan website, pastikan prosesnya tidak berhenti pada pilihan warna dan layout. Penyedia jasa perlu memahami tawaran, target pasar, sumber trafik, serta tindakan yang ingin dikejar dari setiap halaman.

Website bukan poster yang bisa dikasih tepuk tangan.

Ia harus punya pekerjaan.

2. Trafiknya Ramai, tetapi Membawa Orang yang Salah

Tidak semua trafik pantas dirayakan.

Artikel tentang “cara membuat website gratis” mungkin mendatangkan ribuan pembaca. Namun jika kamu menjual pengembangan website profesional untuk perusahaan, sebagian besar pengunjung tersebut belum tentu siap membeli.

Mereka datang mencari gratisan. Kamu menawarkan investasi.

Bukan salah mereka. Bukan juga salah layananmu. Keduanya hanya bertemu di jalan yang keliru.

Inilah alasan SEO tidak boleh hanya mengejar volume pencarian. Keyword perlu dibaca berdasarkan maksud di baliknya.

Bandingkan:

  • apa itu website — pembaca sedang belajar;
  • contoh website perusahaan — pembaca sedang mencari referensi;
  • biaya pembuatan website perusahaan — pembaca mulai menghitung;
  • jasa pembuatan website perusahaan — pembaca mendekati keputusan.

Empat keyword itu sama-sama membahas website. Nilai bisnisnya berbeda.

Konten tahap awal tetap berguna untuk membangun jangkauan dan kepercayaan. Namun situs perlu memiliki jalur menuju artikel pembanding, studi kasus, halaman layanan, dan konsultasi. Kalau tidak, trafik hanya datang untuk membaca lalu pulang seperti tamu kondangan yang hafal lokasi prasmanan, tetapi tidak kenal pengantinnya.

Strategi jasa SEO terpercaya seharusnya menghubungkan keyword dengan tahap keputusan. Bukan sekadar mengirim laporan bahwa impresi naik sambil menghindari pertanyaan paling sederhana: “Terus, ada yang menghubungi?”

3. Satu Halaman Menawarkan Terlalu Banyak Jalan Keluar

Pengunjung baru membuka halaman.

Di navbar ada delapan menu.

Hero menawarkan konsultasi, download profil, lihat portofolio, tonton video, dan ikut newsletter. Di pojok kanan ada WhatsApp mengambang. Lima detik kemudian muncul pop-up diskon.

Website-mu bukan membantu memilih.

Website-mu sedang menggelar kuis.

Semakin dekat halaman dengan transaksi, semakin jelas tindakan utamanya. Landing page iklan bahkan sering membutuhkan satu tujuan dominan: isi formulir, chat, booking, membeli, atau mendaftar.

CTA pendukung boleh ada, tetapi hierarkinya harus terasa. Pengunjung tidak seharusnya bertanya, “Yang mana dulu?”

Gunakan kalimat tombol yang menjelaskan apa yang terjadi setelah diklik.

Bandingkan:

  • “Submit” dengan “Minta Estimasi Biaya”;
  • “Selengkapnya” dengan “Lihat Contoh Proyek”;
  • “Hubungi Kami” dengan “Diskusikan Kebutuhan Website”.

CTA yang spesifik menurunkan ketidakpastian. Pengunjung tahu tindakan, tujuan, dan imbalan kecil yang akan diperoleh.

Dalam kampanye berbayar, halaman juga perlu menjaga janji iklan. Kalau iklan menawarkan audit gratis tetapi halaman pertama sibuk menjelaskan sejarah perusahaan, rasanya seperti memesan nasi goreng lalu disuguhi profil pendiri warung.

Untuk kampanye dengan satu penawaran, jasa pembuatan landing page dapat membantu merapikan jalur dari klik menuju tindakan. Iklan dan halaman harus terasa sebagai satu percakapan, bukan dua tim yang baru berkenalan di hari peluncuran.

4. Website Banyak Klaim, tetapi Pelit Bukti

“Berpengalaman.”

“Profesional.”

“Terpercaya.”

“Mengutamakan kualitas.”

Empat kalimat itu bisa dipakai oleh agency, kontraktor, katering, bengkel, sampai tempat laundry sepatu.

Masalahnya bukan karena klaim tersebut salah. Masalahnya, semua bisnis bisa menulis hal yang sama tanpa perlu membuktikan apa pun.

Kepercayaan tumbuh saat pengunjung menemukan detail yang dapat diperiksa:

  • siapa yang pernah dibantu;
  • masalah awalnya apa;
  • pekerjaan yang dilakukan apa;
  • hasilnya terlihat di mana;
  • bagaimana proses dan batas layanannya;
  • siapa orang di balik bisnis tersebut;
  • bagaimana cara menghubunginya.

Nielsen Norman Group merangkum empat faktor yang membangun kredibilitas website: kualitas desain, keterbukaan informasi sejak awal, konten yang lengkap dan mutakhir, serta hubungan dengan ekosistem web lain. Mereka juga menekankan bahwa navigasi yang jelas membantu pengguna merasa yakin, sedangkan label yang samar membuat orang frustrasi dan pergi. Risetnya dapat dibaca dalam artikel Trustworthiness in Web Design.

Jadi, portofolio bukan galeri screenshot.

Testimoni bukan hiasan bintang lima.

Halaman tentang bukan tempat menumpuk kalimat “kami berkomitmen”.

Semua itu adalah jembatan kepercayaan.

Dalam halaman studi kasus Digital Kreatif, calon klien dapat melihat konteks pekerjaan sebelum menilai layanan. Bukti seperti ini membantu pembaca mengubah pertanyaan dari “Bisa dipercaya nggak?” menjadi “Pendekatan ini cocok untuk bisnisku nggak?”

Pertanyaan kedua jauh lebih dekat ke pembelian.

5. Copywriting Berhenti di Fitur

“Website responsif.”

“Menggunakan WordPress.”

“Sudah termasuk SSL.”

“Mendapat halaman layanan.”

Semua benar.

Tetapi calon klien jarang bangun pagi sambil berkata, “Hari ini saya ingin sekali membeli SSL.”

Mereka ingin bisnis terlihat meyakinkan. Ingin calon pelanggan menemukan informasi tanpa harus bertanya berulang kali. Ingin tim sales menerima percakapan yang lebih matang. Ingin berhenti malu saat diminta alamat website perusahaan.

Fitur adalah benda.

Manfaat adalah gerak.

Konteks kehidupan membuat manfaat terasa.

Contohnya:

Fitur: Website responsif di perangkat mobile.

Manfaat: Halaman tetap nyaman dibaca dari ponsel.

Konteks nyata: Calon klien yang membuka link dari WhatsApp saat sedang di perjalanan tetap dapat memahami layanan dan menekan tombol konsultasi tanpa mencubit layar berkali-kali.

Nah, sekarang kelihatan gunanya.

Ini pola yang kuat dari materi lampiran: jangan berhenti pada apa yang produk miliki. Tarik sampai pembaca bisa melihat dampaknya dalam rutinitas, rasa khawatir, gengsi, waktu, uang, atau ketenangan mereka.

Majas dan permainan bahasa boleh dipakai. Namun jangan sampai kalimat lebih sibuk pamer daripada menjelaskan. Copywriting yang baik bukan penulis berdiri di panggung. Ia seperti pemandu yang menyorot bagian paling penting, lalu minggir agar pembaca dapat melihat dirinya sendiri di dalam cerita.

6. Website Lambat Menguras Kesabaran

Kamu pernah menekan tombol, lalu tidak terjadi apa-apa?

Tekan lagi.

Tiba-tiba dua halaman terbuka.

Atau kamu ingin membaca judul, lalu banner bergeser karena gambar baru selesai dimuat. Jari salah menekan iklan. Emosi naik dua lantai.

Itulah pengalaman pengguna yang buruk dalam bentuk paling jujur.

Google mengukur pengalaman tersebut melalui Core Web Vitals. Dalam panduan Web Vitals, target pengalaman yang baik adalah:

  • Largest Contentful Paint atau LCP maksimal 2,5 detik;
  • Interaction to Next Paint atau INP maksimal 200 milidetik;
  • Cumulative Layout Shift atau CLS maksimal 0,1.

Penilaiannya perlu dilihat pada persentil ke-75, terpisah antara perangkat mobile dan desktop. Jadi, skor cepat dari satu kali tes di laptop kantor belum tentu mewakili pengalaman pengunjung dengan ponsel kelas menengah dan koneksi yang sedang berjuang.

Kecepatan juga punya kaitan dengan hasil bisnis. Dalam rangkaian studi dampak Core Web Vitals, Google mencatat beberapa contoh: Vodafone Italia meningkatkan LCP sebesar 31% dan melihat penjualan naik 8%, sedangkan Tokopedia memperbaiki LCP sebesar 55% dan memperoleh durasi sesi rata-rata yang 23% lebih baik.

Angka itu bukan janji bahwa memangkas satu detik otomatis menaikkan omzetmu sekian persen. Konteks bisnis tetap berbeda. Namun polanya jelas: performa teknis bukan urusan developer yang terpisah dari pemasaran.

Pengunjung merasakannya langsung.

7. Formulir Meminta Komitmen Terlalu Besar

Kamu baru ingin bertanya biaya.

Website meminta nama lengkap, nama perusahaan, jabatan, jumlah karyawan, alamat kantor, omzet bulanan, sumber tahu, target lima tahun, dan mungkin golongan darah.

Belum kenal sudah disuruh buka kartu keluarga.

Setiap kolom menambah pekerjaan. Setiap pertanyaan sensitif menambah keraguan. Formulir perlu meminta data yang benar-benar dibutuhkan untuk mengambil langkah berikutnya, bukan seluruh data yang mungkin berguna suatu hari nanti.

Untuk bisnis jasa, tahap pertama biasanya cukup sederhana:

  • nama;
  • nomor WhatsApp atau email;
  • jenis kebutuhan;
  • ruang singkat untuk menjelaskan masalah.

Data lebih rinci dapat dikumpulkan setelah percakapan dimulai.

Riset Baymard memang berfokus pada e-commerce Amerika Serikat, jadi jangan ditempel mentah-mentah ke semua bisnis. Namun temuannya memberi gambaran kuat tentang ongkos kompleksitas: 17% pembeli daring meninggalkan pesanan karena proses checkout terlalu panjang atau rumit. Baymard juga menemukan banyak checkout dapat mengurangi 20–60% elemen formulir yang tampil secara default.

Prinsipnya relevan: jangan meminta tenaga lebih banyak daripada komitmen yang siap diberikan pengunjung.

Kalau penawarannya konsultasi awal, formulirnya harus terasa seperti membuka percakapan. Bukan ujian masuk.

8. Tampilan Iklan dan Website Berbeda Kepribadian

Di Instagram, brand-mu hangat, ringan, dan penuh contoh nyata.

Begitu orang masuk website, bahasanya berubah menjadi surat keputusan direksi tahun 1997.

“Kami merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan solusi terintegrasi…”

Pengunjung bertanya dalam hati: ini bisnis yang sama?

Konsistensi bukan berarti semua kanal harus memakai desain identik. Namun janji, karakter, istilah, dan kualitas pengalaman perlu terasa satu keluarga.

Konten media sosial menarik perhatian. Iklan memperbesar jangkauan. Website mengubah rasa penasaran menjadi keyakinan. Kalau masing-masing menyampaikan cerita berbeda, calon pelanggan harus menyusun potongan puzzle sendiri.

Pengelolaan social media management sebaiknya terhubung dengan halaman tujuan, bukan hanya mengejar kalender posting. Demikian pula, strategi digital marketing perlu membaca keseluruhan jalur: siapa yang melihat pesan, apa yang membuat mereka mengeklik, halaman mana yang terbuka, dan apakah tindakan berikutnya terjadi.

Budget iklan tidak selalu bocor di dashboard iklan.

Kadang bocornya sesudah klik.

9. Tombol Ada, tetapi Tidak Diukur

Owner bertanya, “Berapa leads dari website bulan ini?”

Tim menjawab, “Traffic naik 40%.”

Itu bukan jawaban. Itu pindah topik.

Website yang bertugas menghasilkan leads perlu mengukur tindakan yang mewakili niat bisnis. Contohnya:

  • klik tombol WhatsApp;
  • klik nomor telepon;
  • pengiriman formulir;
  • booking jadwal;
  • download profil atau katalog;
  • kunjungan ke halaman terima kasih;
  • pembelian selesai.

Panduan Google Ads menjelaskan bahwa klik pada tombol, tautan pembelian, maupun nomor telepon mobile dapat dicatat sebagai konversi. Di Google Analytics 4, tindakan penting juga dapat ditandai sebagai key event untuk membantu membaca perjalanan pengguna.

Tanpa pengukuran, optimasi mudah berubah menjadi tebak-tebakan berbaju laporan.

Warna tombol diganti karena “kayaknya kurang kelihatan”. Hero dirombak karena “sudah bosan”. Pop-up ditambahkan karena “kompetitor juga pakai”.

Padahal belum ada data yang menunjukkan bagian mana benar-benar gagal.

Mulailah dari funnel sederhana:

Halaman dibuka → CTA diklik → formulir dimulai → formulir dikirim → lead dihubungi → terjadi penjualan.

Lihat titik penurunannya.

Kalau banyak orang melihat halaman tetapi sedikit mengeklik CTA, periksa pesan, penawaran, bukti, dan hierarki visual.

Kalau banyak yang mengeklik tetapi sedikit mengirim formulir, periksa jumlah kolom, error, tampilan mobile, serta rasa aman.

Kalau leads masuk tetapi tidak closing, jangan buru-buru menyalahkan website. Bisa jadi respons lambat, kualifikasi keliru, penawaran tidak cocok, atau proses sales perlu dibenahi.

Trafik, leads, dan closing memang bertetangga.

Mereka bukan orang yang sama.

Cara Menemukan Titik yang Membuat Pengunjung Mundur dalam 15 Menit

Tidak perlu menunggu audit setebal skripsi untuk melihat gejala awal.

Buka halaman utama atau landing page-mu dari ponsel. Anggap kamu belum pernah mengenal bisnis tersebut. Lalu lakukan tes ini.

Lima Detik Pertama

Setelah lima detik, tutup layar dan jawab:

  • bisnis ini menawarkan apa;
  • layanan ini cocok untuk siapa;
  • hasil apa yang dijanjikan;
  • langkah berikutnya apa.

Kalau jawabannya masih samar, layar pertama belum bekerja.

Tes Satu Ibu Jari

Gunakan halaman hanya dengan satu ibu jari.

Apakah teks nyaman dibaca? Tombol mudah ditekan? Formulir tidak melebar? WhatsApp terbuka dengan pesan yang masuk akal? Ada elemen yang meloncat saat halaman dimuat?

Desktop boleh cantik. Pelangganmu mungkin datang dari layar enam inci sambil berdiri di minimarket.

Tes “Terus Kenapa?”

Baca setiap klaim, lalu tanya: terus kenapa?

“Kami memakai teknologi terbaru.”

Terus kenapa?

“Proses kami dikerjakan tim profesional.”

Terus kenapa?

Kalau manfaatnya tidak segera terlihat, tambahkan dampak nyata atau buang kalimatnya. Website tidak perlu memelihara paragraf yang hanya numpang lewat.

Tes Kepercayaan

Cari bukti tanpa menggunakan menu lebih dari dua kali.

Apakah ada proyek nyata, identitas perusahaan, proses kerja, kontak aktif, testimoni dengan konteks, kebijakan, atau wajah orang di balik brand?

Kepercayaan yang disembunyikan tiga halaman ke dalam sama saja seperti sertifikat yang disimpan di laci saat calon klien sedang bertanya.

Tes Pengukuran

Klik semua CTA utama dan pastikan event-nya tercatat. Kirim formulir percobaan. Cek email atau WhatsApp tujuan. Ukur waktu respons.

Jangan hanya memastikan tombol bisa diklik.

Pastikan bisnis mengetahui bahwa tombol itu diklik.

Urutan Memperbaiki Website yang Tidak Menghasilkan Leads

Kesalahan umum saat konversi rendah adalah merombak semuanya sekaligus.

Headline baru. Warna baru. Form baru. Gambar baru. Struktur baru.

Hasilnya naik atau turun, tetapi tidak ada yang tahu penyebabnya.

Gunakan urutan yang lebih waras.

Pertama, pastikan pengukuran bekerja. Kamu membutuhkan angka awal sebagai pembanding.

Kedua, cocokkan sumber trafik dengan halaman tujuan. Keyword berintensi membeli jangan diarahkan ke artikel umum. Iklan spesifik jangan mendarat di homepage yang menawarkan tujuh layanan.

Ketiga, benahi layar pertama. Jelaskan tawaran, pembaca, hasil, dan tindakan utama.

Keempat, perkuat bukti. Tambahkan studi kasus, proses, contoh hasil, dan informasi bisnis yang dapat diverifikasi.

Kelima, kurangi gesekan. Pangkas kolom, pilihan, pop-up, animasi, serta elemen yang tidak membantu keputusan.

Keenam, periksa kecepatan dan tampilan mobile menggunakan data lapangan jika tersedia.

Ketujuh, ubah satu kelompok elemen lalu ukur. Tidak semua perubahan membutuhkan A/B testing rumit, tetapi setiap perubahan perlu hipotesis yang jelas.

Contohnya:

Itu optimasi.

Mengganti tombol karena bosan bukan optimasi. Itu redekorasi.

Website yang Menjual Terasa Mudah

Website dengan konversi baik tidak harus berteriak.

Ia tidak perlu memasang countdown palsu, testimoni tanpa nama, dan tombol merah yang berkedip seperti lampu darurat.

Ia perlu membuat keputusan terasa ringan.

Pengunjung memahami tawaran tanpa menerjemahkan jargon. Menemukan bukti tanpa berburu. Mengetahui langkah berikutnya tanpa menebak. Mengisi data tanpa merasa sedang diinterogasi. Mendapat respons sebelum minatnya keburu dingin.

Hal yang menahan pengunjung agar tidak buru-buru pergi adalah kejelasan.

Kejelasan.

Saat kejelasan naik, website berhenti menjadi brosur mahal. Ia berubah menjadi anggota tim yang bekerja diam-diam: menyaring perhatian, menjelaskan nilai, menumbuhkan percaya, lalu mengantar calon pelanggan ke percakapan.

Kalau website-mu ramai tetapi WhatsApp tetap sunyi, jangan langsung menambah budget iklan.

Periksa dulu pintunya.

Mungkin orangnya sudah datang. Mereka hanya tidak menemukan alasan yang cukup jelas untuk masuk.

Kami di Digital Kreatif dapat membantu memeriksa hubungan antara trafik, struktur halaman, copywriting, pengalaman mobile, bukti, CTA, dan pengukuran konversi. Ceritakan kondisi website dan target bisnismu melalui halaman kontak Digital Kreatif. Kita cari titik bocornya lebih dulu, baru menentukan apa yang memang perlu diperbaiki.

Bagikan artikel
GRATIS DOMAIN + HOSTING

Website Profesional, Bisnis Tampil Maksimal!

Rp 3.500.000 Rp 2.500.000

Tak perlu pusing urus teknis atau coding. Tim Digital Kreatif siap bangunkan website premium. Terima beres, Anda tinggal fokus urus klien!

  • Desain dedicated bukan pasaran, bikin brand makin menawan.
  • Bebas biaya Domain & Hosting 1 tahun pertama.
  • Mudah ditemukan lewat optimasi SEO & GEO.
🔥 Sisa 2 slot bulan ini
➔ Ambil Promo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   5   =  

  • Layanan
  • Siapa Kami
  • Portfolio
  • Blog
  • Kontak
Butuh bantuan apa kak?
Kak Fitri
Biasanya membalas dalam beberapa menit